Ma’had Al-Jami’ah IAN SAS Bangka Belitung mengajak Mahasiswa - Mahasiswi untuk meramaikan Yasinan rutin dan do’a bersama yang ditujukan kepada para Jama’ah Haji Indonesia yang saat ini sedang berada di Tanah Suci Makkah. Yasinan dan do’a bersama ini merupakan salah satu kegiatan mingguan yang dilakukan Mahasantri Ma’had Al-Jami’ah bersama mahasiswa-mahasiswi lainnya. Pada pekan ini, tepatnya di Aula Ma’had al-Jami’ah pembacaan Yaasin dipimpin oleh mahasiswa Abdurrahman dan do’a bersama dipimpin oleh mahasiswa Habiburrahman. [Kamis, 06/06/2024]
Kegiatan rutin lainnya adalah penampilan pidato tiga Bahasa. Adapun pidato kali ini bertemakan Ibadah Haji yang disampaikan oleh Mahasantri Okta dalam Bahasa Arab, Salimah dalam Bahasa Inggris, dan Meriantika dalam Bahasa Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Ma’had Ustadz H. Winarno, M.H.I., C.Med menyiarkan tujuan dari ibadah Haji kepada Mahasantri dan Mahasiswa yang hadir pada kegiatan Yasinan dan do’a bersama tersebut “Tujuan Haji adalah untuk membersihkan diri, membersihkan jiwa dari segenap dosa-dosa kita yang telah” Ujar beliau.
“Haji ini dikombinasikan dengan peristiwa Udhiyah, penyembelihan. Kenapa idul adha itu disebut hari raya qurban atau udhiyah? Karena Idul Adha ini Sejarah Nabi Allah Ibrahim AS. Jadi Nabi Ibrahim ketika nikah dengan Sarah tidak memiliki keturunan, namun sisi yang lain Ibrahim diberikan kelebihan oleh Allah harta yang berlimpah. Sarah istrinya meminta kepada Nabi Ibrahim untuk menikahi pembantunya Siti Hajar dan diberilah keturun oleh Allah Ibrahim diberilah nama Ismail. Pernah suatu ketika berkurban dengan menyembelih 1000 ekor domba, 300 ekor onta, 100 ekor lembu. Nah ketika beliau menyembelih hewan ternak yang ia miliki, sifat manusiawinya keluar, di atas langit. Jangankan Binatang ini, jika seandainya Tuhan menitipkan keturunan anak suruh menyembelih akan saya sembelih. Ini idul adha asal muasalnya berangkat dari nazar Nabi Allah Ibrahim AS” Jelas Kepala Ma’had Al-Jami’ah.
Kemudian beliau melanjutkan Sejarah Idul Adha tentang peringatan Allah akan nazar yang pernah disampaikan Nabi Ibrahim “Wahai Ibrahim, tunaikan apa yang menjadi nazarmu kata Allah, maka 08 Dzulhijjah disebut hari Tarwiyah, hari persiapan. Belum juga paham Nabi Ibrahim, di 09 Dzulhijjah Allah ingatkan Kembali apa yang menjadi nazarnya. Maka di hari ke 10 Dzulhijjah disebut hari penyembelihan dan turunlah dalam QS Assafat perintah untuk menyembelih barulah Nabi Ibrahim paham. Kemudian disampaikanlah kepada Istri dan anaknya Ismail, keduanya sami’na wa atha’na karena itu perintah Tuhan” jelasnya.
Sejarah dan hikmah perjalanan kisah Nabi Ibrahim dalam peringatan Idul Adha mengajarkan kepada kita agar berani berkorban dengan apa yang kita punya untuk membantu orang lain yang membutuhkan uluran tangan. Selain itu, engan ibadah kurban yang merupakan wujud pengorbanan untuk menanamkan panggilan kemanusiaan.