Bangka — Ma’had Al-Jami’ah IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung terus berkomitmen menghadirkan pembinaan keagamaan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan keislaman, tetapi juga pada pembentukan karakter, akhlak, dan adab para mahasantri. Salah satu program keagamaan yang secara rutin dilaksanakan setiap pekan adalah kajian kitab Ta’limul Muta’allim, yang diampu langsung oleh Kepala Ma’had Al-Jami’ah, H. Winarno, M.H.I., C.Med.
Kajian Ta’limul Muta’allim menjadi salah satu bagian penting dalam Program Keagamaan Ma’had Al-Jami’ah pada semester ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Kegiatan ini diikuti oleh para mahasantri sebagai bagian dari proses pembinaan yang diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa aktivitas menuntut ilmu tidak cukup hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga membutuhkan adab, kesungguhan, keikhlasan, serta penghormatan kepada ilmu dan orang-orang yang menyampaikannya.
Kitab Ta’limul Muta’allim Thariq at-Ta’allum merupakan salah satu kitab klasik yang banyak digunakan dalam tradisi pendidikan Islam untuk memberikan tuntunan kepada para penuntut ilmu mengenai tata cara belajar, adab terhadap guru, teman, ilmu, serta berbagai sikap yang perlu dimiliki oleh seorang pelajar. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dengan kehidupan mahasantri yang tidak hanya sedang menempuh pendidikan tinggi, tetapi juga menjalani proses pembentukan kepribadian di lingkungan Ma’had.
Melalui kajian yang dilaksanakan secara rutin setiap pekan tersebut, para mahasantri diajak untuk memahami bahwa ilmu dan adab merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan maupun di lingkungan Ma’had diharapkan tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi dapat tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Kepala Ma’had Al-Jami’ah, H. Winarno, M.H.I., C.Med., dalam penyampaian materi senantiasa mengingatkan para mahasantri mengenai pentingnya menjaga niat dalam menuntut ilmu. Menuntut ilmu hendaknya dilakukan dengan niat yang baik dan ikhlas, bukan semata-mata untuk memperoleh nilai, gelar, kedudukan, ataupun pengakuan dari orang lain. Ilmu yang dipelajari diharapkan menjadi jalan untuk memperbaiki diri, memberikan manfaat kepada orang lain, serta mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Menurutnya, seorang mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik harus diimbangi dengan akhlak yang baik. Kecerdasan tanpa adab dapat menyebabkan seseorang kehilangan arah dalam menggunakan ilmu yang dimilikinya. Sebaliknya, ilmu yang disertai dengan adab akan menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan, baik di lingkungan kampus, keluarga, masyarakat, maupun ketika memasuki dunia profesional.
Menjadikan Adab sebagai Fondasi Menuntut Ilmu
Salah satu pesan penting yang terus ditekankan dalam kajian Ta’limul Muta’allim adalah mengenai kedudukan adab dalam proses pendidikan. Mahasantri diarahkan untuk membiasakan diri menghormati guru, ustaz dan ustazah, dosen, orang tua, serta siapa pun yang menjadi perantara dalam memperoleh ilmu.
Sikap menghormati guru bukan berarti menempatkan seorang pendidik secara berlebihan, melainkan merupakan bentuk penghargaan terhadap ilmu dan proses pendidikan. Dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut dapat diwujudkan melalui sikap sopan dalam berbicara, memperhatikan ketika pembelajaran berlangsung, tidak meremehkan nasihat, serta menjaga etika ketika berinteraksi.
Kepala Ma’had juga mengingatkan bahwa adab tidak hanya ditunjukkan ketika berada di dalam kelas. Adab seorang penuntut ilmu juga tercermin dari bagaimana ia berbicara dengan teman, menggunakan media sosial, menjaga kebersihan lingkungan, mematuhi aturan Ma’had, serta bertanggung jawab terhadap tugas dan amanah yang diberikan.
Dengan demikian, kajian Ta’limul Muta’allim tidak hanya menjadi kegiatan membaca dan memahami isi kitab, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi para mahasantri untuk mengevaluasi sikap dan kebiasaan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Pentingnya Kesungguhan dan Kesabaran
Dalam proses menuntut ilmu, kesungguhan dan kesabaran juga menjadi nilai yang mendapatkan perhatian. Mahasantri diingatkan bahwa keberhasilan dalam pendidikan tidak diperoleh secara instan. Dibutuhkan proses panjang, kedisiplinan, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar meskipun menghadapi berbagai kesulitan.
Kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus mahasantri tentu memiliki tantangan tersendiri. Mereka harus mampu membagi waktu antara kegiatan perkuliahan, tugas akademik, program Ma’had, ibadah, organisasi, serta kehidupan sosial. Karena itu, kemampuan mengatur waktu menjadi bagian penting dari pembentukan karakter seorang penuntut ilmu.
Melalui kajian Ta’limul Muta’allim, para mahasantri didorong untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi materi perkuliahan yang sulit, tugas yang banyak, maupun proses pembelajaran yang membutuhkan waktu panjang. Kesulitan dalam belajar hendaknya dipandang sebagai bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri.
Kesungguhan juga perlu diwujudkan melalui kebiasaan membaca, mencatat, mengulang pelajaran, bertanya ketika belum memahami materi, serta memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.
Menghargai Waktu dan Memanfaatkan Kesempatan
Pesan lainnya yang ditekankan dalam pembinaan adalah pentingnya menghargai waktu. Masa menjadi mahasiswa merupakan salah satu fase yang sangat berharga karena memberikan kesempatan luas untuk belajar, mengembangkan kemampuan, memperluas wawasan, dan membentuk karakter.
Mahasantri diajak untuk tidak membiarkan waktu berlalu tanpa kegiatan yang bermanfaat. Waktu yang dimiliki dapat digunakan untuk membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian, mengulang materi perkuliahan, berdiskusi, membaca buku, mengembangkan keterampilan, maupun melakukan aktivitas sosial yang memberikan manfaat.
Kebiasaan disiplin terhadap waktu diharapkan dapat membentuk pribadi mahasantri yang bertanggung jawab. Hal tersebut juga sejalan dengan pembinaan di Ma’had Al-Jami’ah yang tidak hanya menekankan aspek keagamaan, tetapi juga kedisiplinan dan pembentukan karakter.
Memuliakan Ilmu dengan Mengamalkannya
Kajian Ta’limul Muta’allim juga memberikan pemahaman bahwa ilmu seharusnya membawa perubahan dalam diri seseorang. Semakin banyak ilmu yang diperoleh, semakin besar pula tanggung jawab untuk mengamalkannya.
Mahasantri tidak hanya diharapkan mampu memahami materi kajian, tetapi juga menerapkan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tentang akhlak, misalnya, harus tercermin dalam perilaku santun. Pengetahuan tentang ibadah harus mendorong peningkatan kualitas ibadah. Demikian pula pengetahuan yang diperoleh dari perkuliahan harus dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Dalam konteks tersebut, Ma’had Al-Jami’ah berupaya menjadikan kajian Ta’limul Muta’allim sebagai bagian dari proses membangun budaya keilmuan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman yang moderat.
Membangun Tradisi Keilmuan di Lingkungan Ma’had
Pelaksanaan kajian Ta’limul Muta’allim setiap pekan menjadi salah satu upaya Ma’had Al-Jami’ah dalam membangun tradisi keilmuan di kalangan mahasantri. Kegiatan ini melengkapi berbagai program pembinaan keagamaan lainnya yang dilaksanakan di lingkungan Ma’had.
Dengan adanya kajian rutin, para mahasantri memiliki ruang untuk belajar secara berkelanjutan sekaligus mendiskusikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan seorang penuntut ilmu. Materi yang disampaikan juga diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasantri dalam menghadapi kehidupan akademik dan sosial di tengah perkembangan zaman.
Pembelajaran Ta’limul Muta’allim pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana memperoleh ilmu, tetapi juga tentang bagaimana menjadi pribadi yang layak membawa dan mengamalkan ilmu tersebut.
Melalui pembinaan yang dilakukan secara konsisten, Ma’had Al-Jami’ah berharap para mahasantri dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, dan keluhuran akhlak.
Kegiatan kajian yang diampu langsung oleh Kepala Ma’had tersebut juga menjadi momentum untuk memberikan keteladanan sekaligus penguatan karakter kepada para mahasantri. Interaksi langsung antara pimpinan Ma’had dan mahasantri dalam kegiatan pembelajaran diharapkan dapat menciptakan suasana pendidikan yang lebih dekat, komunikatif, dan sarat dengan nilai-nilai pembinaan.
Pada akhirnya, kajian Ta’limul Muta’allim diharapkan mampu menanamkan kesadaran kepada setiap mahasantri bahwa perjalanan menuntut ilmu merupakan sebuah proses yang membutuhkan niat yang ikhlas, kesungguhan, kesabaran, penghormatan terhadap guru, penghargaan terhadap waktu, serta komitmen untuk mengamalkan ilmu.
Sebab, keberhasilan seorang penuntut ilmu tidak hanya diukur dari seberapa banyak ilmu yang berhasil dikuasai, tetapi juga dari sejauh mana ilmu tersebut membentuk dirinya menjadi pribadi yang beradab dan memberikan manfaat bagi sesama. Dengan semangat tersebut, Ma’had Al-Jami’ah terus berupaya menghadirkan pembinaan yang mampu memperkuat karakter mahasantri sebagai insan akademik sekaligus pribadi yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.