Bangka - Suasana penuh khidmat, kebersamaan, dan semangat kreativitas mewarnai kegiatan Mahasantri Ma’had Al-Jami’ah dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus penutupan rangkaian kegiatan MATAHARI (Masa Ta’aruf Mahasantri) Tahun 2026 dan pembagian hadiah perlombaan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 (03/09/2026).
Kegiatan yang digelar di lingkungan Ma’had Al-Jami’ah IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung tersebut menjadi momentum penting bagi para mahasantri untuk memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, merefleksikan nilai-nilai keteladanan Rasulullah, sekaligus mempererat rasa kebersamaan antarmahasantri.
Rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana religius dan meriah. Acara diawali dengan Yasinan, doa bersama, dan pembacaan Marhaban sebagai bentuk ungkapan syukur serta penghormatan dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Para mahasantri mengikuti rangkaian pembukaan tersebut dengan penuh kekhusyukan.
Pembacaan Yasin dan doa bersama menjadi pengingat bagi seluruh peserta bahwa kehidupan di lingkungan Ma’had tidak hanya berorientasi pada pengembangan intelektual, tetapi juga pembentukan karakter dan penguatan spiritual. Sementara itu, pembacaan Marhaban semakin menghidupkan suasana peringatan Maulid dengan lantunan pujian dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Momentum tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Ma’had Al-Jami’ah dalam membentuk generasi mahasiswa yang memiliki keseimbangan antara kemampuan akademik, keterampilan sosial, spiritualitas, dan akhlak.
Setelah rangkaian kegiatan keagamaan, acara dilanjutkan dengan sambutan Kepala Ma’had Al-Jami’ah, Ustadz H. Winarno, M.H.I., C.Med.
Dalam sambutannya, Kepala Ma’had memberikan pesan khusus kepada seluruh mahasantri agar menjadikan kehidupan di Ma’had sebagai ruang untuk belajar membangun karakter, bukan sekadar tempat tinggal selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Salah satu hal yang menjadi penekanan adalah pentingnya kedisiplinan. Menurutnya, kedisiplinan merupakan salah satu fondasi penting dalam membentuk pribadi yang bertanggung jawab. Mahasantri dituntut mampu mengatur waktu, menaati ketentuan yang telah ditetapkan, mengikuti kegiatan Ma’had dengan sungguh-sungguh, serta menunjukkan keseriusan dalam menjalankan setiap kewajiban.
"Kedisiplinan, tidak hanya berkaitan dengan ketepatan waktu mengikuti kegiatan, tetapi juga mencakup kedisiplinan dalam belajar, beribadah, menjaga kebersihan, menaati aturan, serta menghargai sesama". ujarnya
Selain kedisiplinan, Kepala Ma’had juga menegaskan pentingnya menjaga adab. Bagi lingkungan Ma’had Al-Jami’ah, adab menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.
Mahasantri diingatkan agar senantiasa menjaga sikap dan tutur kata, baik ketika berinteraksi dengan pengelola, pengasuh, dosen, sesama mahasantri, maupun masyarakat di lingkungan sekitar.
Pesan tersebut menjadi penting karena keberhasilan seorang mahasiswa tidak hanya diukur dari capaian akademiknya. Kemampuan seseorang dalam menjaga sikap, menghormati orang lain, bertanggung jawab, serta membawa diri dengan baik juga menjadi bagian penting dari keberhasilan pendidikan.
Kepala Ma’had berharap para mahasantri tidak hanya menjadi mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menjadi pribadi yang memiliki akhlak dan karakter kuat.
"Ilmu harus berjalan bersama adab. Karena itu, selama berada di Ma’had, para mahasantri harus belajar menjaga kedisiplinan, menghormati aturan, dan menjaga adab dalam setiap pergaulan," pesan Kepala Ma’had kepada para mahasantri.
Ia juga mengingatkan bahwa aturan yang diterapkan di Ma’had pada dasarnya merupakan bagian dari proses pembinaan. Ketegasan dalam menjalankan aturan diperlukan agar para mahasantri terbiasa hidup tertib dan bertanggung jawab.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penanda berakhirnya rangkaian MATAHARI 2026 yang telah menjadi tahap awal bagi para mahasantri baru untuk mengenal lebih dekat kehidupan akademik dan pembinaan di lingkungan Ma’had Al-Jami’ah.
Selama mengikuti rangkaian MATAHARI, para mahasantri mendapatkan berbagai pengalaman yang dirancang untuk membangun kebersamaan, kedisiplinan, keberanian, kreativitas, serta kemampuan bekerja sama.
Penutupan MATAHARI tidak hanya menjadi seremoni berakhirnya sebuah kegiatan, tetapi juga menjadi awal bagi para mahasantri untuk memasuki kehidupan Ma’had dengan semangat dan tanggung jawab yang lebih besar.
Berbagai pengalaman selama masa ta’aruf diharapkan menjadi bekal bagi mahasantri untuk mengikuti program-program pembinaan Ma’had berikutnya.
Melalui kegiatan tersebut, para mahasantri juga diajak memahami bahwa kehidupan di Ma’had merupakan bagian dari proses pendidikan yang berlangsung secara berkelanjutan. Mereka tidak hanya mendapatkan pembelajaran melalui kegiatan formal, tetapi juga melalui interaksi, kedisiplinan, kebersamaan, organisasi, seni, serta berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.

Setelah rangkaian sambutan dan kegiatan keagamaan, suasana kegiatan berubah menjadi lebih meriah dengan penampilan seni dari masing-masing kelompok lomba.
Para mahasantri menampilkan berbagai kreativitas yang telah dipersiapkan sebelumnya. Penampilan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan karena memperlihatkan keberanian, kekompakan, kreativitas, dan potensi seni para mahasantri.
Berbagai pertunjukan ditampilkan, mulai dari nasyid, tari daerah, pencak silat, drama musikal, fashion show, Tari Melayu, hingga sejumlah penampilan seni lainnya.
Penampilan nasyid menjadi salah satu sajian yang menghadirkan nuansa religius sekaligus menghibur. Dengan lantunan vokal dan kekompakan kelompok, para mahasantri menunjukkan kemampuan mereka dalam mengemas pesan-pesan keislaman melalui seni.
Sementara itu, penampilan tari daerah menjadi ruang bagi para mahasantri untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan kekayaan budaya Nusantara. Gerakan tari yang dipadukan dengan kostum tradisional menghadirkan warna tersendiri dalam rangkaian kegiatan.
Pertunjukan pencak silat juga mendapatkan perhatian. Salah satu mahasantri menampilkan gerakan silat dengan penuh percaya diri dan disiplin. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memperlihatkan nilai-nilai ketekunan, keberanian, dan konsentrasi.
Tidak kalah menarik, drama musikal menjadi salah satu penampilan yang menggabungkan seni peran, musik, dan gerak. Para mahasantri berusaha menyampaikan cerita melalui pertunjukan yang kreatif dan menghibur.
Sementara itu, fashion show menjadi ruang bagi para peserta untuk menunjukkan kreativitas dalam memadukan busana, penampilan, dan kepercayaan diri. Beragam gaya yang ditampilkan membuat suasana kegiatan semakin semarak.
Tari Melayu turut memperkuat identitas budaya lokal dalam kegiatan tersebut. Kehadiran kesenian Melayu menjadi bentuk apresiasi terhadap budaya daerah sekaligus pengingat bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan.
Beragam penampilan tersebut menunjukkan bahwa para mahasantri memiliki potensi yang beragam. Ada yang menonjol dalam bidang seni suara, tari, olahraga, seni peran, hingga kemampuan tampil di depan publik.
Rangkaian perlombaan yang sebelumnya dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT RI ke-81 juga menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.
Perlombaan tidak semata-mata diarahkan untuk mencari pemenang. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana membangun kebersamaan dan solidaritas antarmahasantri.
Persaingan selama perlombaan menjadi pengalaman yang mengajarkan pentingnya sportivitas. Para mahasantri belajar bagaimana berkompetisi secara sehat, menerima kemenangan dengan rendah hati, serta menerima kekalahan dengan lapang dada.
Kegiatan tersebut juga memperkuat hubungan antarkelompok. Para mahasantri yang berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang berbeda dapat berbaur melalui berbagai aktivitas bersama.
Nilai kebersamaan inilah yang diharapkan terus tumbuh dalam kehidupan Ma’had.

Setelah seluruh penampilan seni selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian hadiah kepada para pemenang perlombaan dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Pembagian hadiah berlangsung meriah dan disambut antusias oleh para mahasantri. Para pemenang dari berbagai kategori menerima apresiasi atas usaha, kreativitas, dan kerja keras yang telah mereka tunjukkan selama perlombaan.
Pemberian hadiah menjadi bentuk penghargaan terhadap semangat para mahasantri dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Apresiasi tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi agar mereka semakin berani mengembangkan potensi yang dimiliki.
Bagi para mahasantri yang belum mendapatkan juara, kegiatan tersebut tetap menjadi pengalaman berharga. Sebab, nilai utama dari perlombaan bukan hanya tentang mendapatkan hadiah, melainkan keberanian untuk berpartisipasi, bekerja sama, berlatih, dan memberikan yang terbaik.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai peringatan kemerdekaan yang mengajarkan pentingnya persatuan, gotong royong, kerja keras, dan optimisme dalam mencapai tujuan bersama.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, penutupan MATAHARI 2026, serta pembagian hadiah HUT RI ke-81 akhirnya menjadi satu rangkaian kegiatan yang sarat makna.
Di satu sisi, peringatan Maulid menjadi momentum untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus meneladani akhlak beliau. Di sisi lain, penutupan MATAHARI menjadi penanda dimulainya perjalanan baru para mahasantri dalam menjalani kehidupan dan pembinaan di Ma’had Al-Jami’ah.
Sementara itu, perlombaan dan pentas seni memberikan ruang bagi para mahasantri untuk mengembangkan kreativitas, keberanian, sportivitas, serta kemampuan bekerja sama.
Ketiga momentum tersebut berpadu dalam satu semangat: membentuk mahasantri yang berilmu, berkarakter, disiplin, kreatif, dan beradab.
Melalui kegiatan yang menggabungkan aspek keagamaan, pendidikan karakter, kebudayaan, dan kreativitas tersebut, Ma’had Al-Jami’ah terus berupaya menciptakan lingkungan pembinaan yang tidak hanya mendukung perkembangan akademik mahasiswa, tetapi juga membangun kepribadian mereka.
Bagi para mahasantri, berakhirnya kegiatan MATAHARI bukan berarti berakhirnya proses belajar. Justru, momentum tersebut menjadi awal untuk menjalani kehidupan Ma’had dengan tanggung jawab yang lebih besar.
Pesan tentang disiplin dan adab yang disampaikan Kepala Ma’had menjadi bekal penting bagi para mahasantri dalam menjalani setiap aktivitas ke depan. Sebab, ilmu yang diperoleh akan semakin bermakna apabila diiringi dengan akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan menghargai orang lain.
Dengan semangat Maulid Nabi Muhammad SAW dan nilai-nilai kemerdekaan, para mahasantri diharapkan mampu tumbuh menjadi generasi muda yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki keteguhan karakter, kecintaan terhadap agama dan bangsa, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Rangkaian kegiatan tersebut pun ditutup dalam suasana penuh kebersamaan dan kegembiraan. Para mahasantri kembali membawa pengalaman, kenangan, serta semangat baru untuk melanjutkan proses pembinaan dan pendidikan di Ma’had Al-Jami’ah.