Bangka - Ma’had Al-Jami’ah IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik (IAIN SAS) Bangka Belitung menggelar kegiatan MATAHARI (Masa Ta’aruf Mahasantri) Tahun Akademik 2026/2027 pada Selasa, 11 Agustus 2026 pukul 09.00 - selesai. Kegiatan yang berlangsung di Aula Ma’had Al-Jami’ah tersebut menjadi momentum awal bagi para mahasantri baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan Ma’had, sistem pembinaan, fasilitas, tata tertib, serta kehidupan yang akan mereka jalani selama menjadi mahasantri.
Kegiatan MATAHARI dihadiri langsung oleh Rektor IAIN SAS Bangka Belitung, Prof. Dr. H. Janawi, M.Ag. Kehadiran Rektor menjadi kesempatan penting bagi para mahasantri baru untuk mendapatkan motivasi sekaligus arahan langsung dari pimpinan perguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. H. Janawi memberikan sejumlah pesan kepada para mahasantri baru agar mampu menjalani kehidupan di Ma’had dengan penuh rasa syukur, bahagia, disiplin, serta memiliki semangat untuk mengembangkan kapasitas diri.
Menurut Rektor, menjadi bagian dari Ma’had merupakan sebuah kesempatan yang harus disyukuri. Para mahasantri diharapkan tidak memandang kehidupan di asrama sebagai sesuatu yang membatasi, melainkan sebagai bagian dari proses pendidikan yang dapat memberikan pengalaman, pembiasaan, dan pembentukan karakter.
Salah satu pesan yang ditekankan Rektor adalah agar para mahasantri dapat menikmati kehidupan mereka di Ma’had dengan penuh kebahagiaan.
Prof. Janawi mengajak para mahasantri baru untuk tidak membandingkan kehidupan di Ma’had secara negatif dengan mahasiswa yang tinggal di kos. Menurutnya, kehidupan di Ma’had memiliki karakteristik dan keunggulan tersendiri karena mahasiswa mendapatkan lingkungan pembinaan yang terarah.
“Anak Ma’had harus berbahagia. Jangan merasa bahwa tinggal di Ma’had itu menjadi sesuatu yang membebani. Justru di sini banyak hal yang bisa didapatkan, yang mungkin tidak diperoleh oleh mahasiswa yang tinggal di kos,” pesan Prof. Janawi kepada para mahasantri baru.
Menurutnya, kehidupan di Ma’had memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar tidak hanya dari buku dan ruang kelas, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari. Interaksi dengan sesama mahasantri, pengasuh, koordinator bidang, dan pengelola Ma’had merupakan bagian dari proses pendidikan yang memiliki nilai penting.
Ma’had, lanjutnya, diharapkan menjadi lingkungan yang mampu membangun kebiasaan baik sekaligus membentuk mahasiswa agar lebih mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Karena itu, para mahasantri diminta untuk menikmati setiap proses yang ada. Kegiatan pembinaan, aturan asrama, kebersamaan, hingga berbagai aktivitas sehari-hari hendaknya dipandang sebagai pengalaman yang kelak menjadi bekal berharga.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan bahwa pimpinan IAIN SAS Bangka Belitung terus berupaya memperhatikan kebutuhan dan kondisi fasilitas Ma’had Al-Jami’ah.
Ia menyampaikan bahwa para pimpinan sedang berusaha melakukan penyisiran anggaran yang memungkinkan untuk mendukung perbaikan dan peningkatan fasilitas Ma’had.
Upaya tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap keberlangsungan pembinaan mahasantri sekaligus kebutuhan lingkungan asrama sebagai salah satu bagian penting dalam ekosistem pendidikan di perguruan tinggi.
Prof. Janawi berharap para mahasantri dapat memahami bahwa peningkatan fasilitas membutuhkan proses dan perencanaan. Karena itu, selama proses tersebut berjalan, para mahasantri diharapkan tetap menjaga dan merawat fasilitas yang telah tersedia.
“Pimpinan terus berusaha. Kita sedang melakukan penyisiran anggaran untuk melihat apa saja yang dapat kita lakukan untuk perbaikan fasilitas Ma’had. Tetapi yang paling penting, fasilitas yang sudah ada harus dijaga bersama,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kenyamanan lingkungan Ma’had bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola, tetapi juga seluruh penghuni Ma’had.
Para mahasantri diharapkan memiliki rasa memiliki terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Menjaga kebersihan, merawat fasilitas, tidak merusak sarana yang tersedia, serta menggunakan fasilitas secara bertanggung jawab merupakan bagian dari pembentukan karakter.
Selain berbicara mengenai fasilitas dan kehidupan di Ma’had, Rektor juga memberikan penekanan pada pentingnya kapasitas keilmuan yang dimiliki mahasiswa untuk dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Prof. Janawi, mahasiswa tidak cukup hanya mengumpulkan pengetahuan selama berada di bangku kuliah. Ilmu yang diperoleh harus mampu diterapkan dalam kehidupan nyata dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Ia mengingatkan para mahasantri bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari banyaknya ilmu yang dikuasai, tetapi juga dari kemampuan seseorang dalam mengamalkan dan mengimplementasikan ilmu tersebut.
“Keilmuan yang dimiliki jangan hanya berhenti pada pengetahuan. Ilmu itu harus bisa diimplementasikan di lingkungan. Apa yang dipelajari harus memberikan manfaat, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi penting bagi para mahasantri yang sedang memulai perjalanan sebagai mahasiswa. Mereka diharapkan mampu membangun kebiasaan untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan persoalan kehidupan di sekitarnya.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi pribadi yang cakap secara akademik, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Rektor juga menyinggung pentingnya keseimbangan antara hard skill dan soft skill.
Hard skill, menurutnya, dapat direpresentasikan melalui kemampuan akademik dan ijazah yang diperoleh mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan. Namun, ijazah saja tidak cukup untuk menghadapi kehidupan setelah lulus.
Mahasiswa juga perlu memiliki soft skill, terutama kemampuan berkomunikasi dan membangun hubungan dengan orang lain.
“Hard skill itu penting, termasuk ijazah. Tetapi soft skill juga sangat penting. Bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain, bagaimana kita membangun relasi, bagaimana kita menghargai orang lain, itu juga harus dilatih,” jelasnya.
Ia mendorong para mahasantri untuk menjadikan kehidupan di Ma’had sebagai ruang latihan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Interaksi sehari-hari dengan teman yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang menjadi kesempatan bagi para mahasantri untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan perbedaan, serta membangun hubungan sosial yang sehat.
Kemampuan tersebut dinilai akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, Kepala Ma’had Al-Jami’ah IAIN SAS Bangka Belitung, H. Winarno, M.H.I., C.Med., dalam sambutannya memberikan penjelasan kepada para mahasantri baru mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan di Ma’had.
H. Winarno menyampaikan informasi mengenai fasilitas yang tersedia di lingkungan Ma’had sekaligus mengingatkan para mahasantri agar memiliki kepedulian untuk menjaga seluruh sarana dan prasarana yang digunakan bersama.
Menurutnya, fasilitas Ma’had merupakan aset bersama yang keberadaannya mendukung proses pembinaan dan kenyamanan para mahasantri.
Karena itu, setiap mahasantri memiliki tanggung jawab untuk menggunakan fasilitas dengan baik, menjaga kebersihan, serta segera melaporkan apabila terdapat fasilitas yang mengalami kerusakan.
“Kita harus sama-sama menjaga fasilitas yang ada. Apa yang digunakan bersama harus dirawat bersama. Jangan sampai karena kurangnya kepedulian, fasilitas yang sebenarnya masih bisa digunakan menjadi cepat rusak,” pesan H. Winarno.
Selain fasilitas, Kepala Ma’had juga memberikan perhatian khusus terhadap persoalan kebersihan lingkungan.
Ia mengingatkan para mahasantri baru bahwa kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan maupun pengelola Ma’had. Kebersihan merupakan tanggung jawab seluruh penghuni.
Para mahasantri diminta membiasakan diri menjaga kebersihan kamar, lingkungan sekitar, kamar mandi, serta berbagai fasilitas umum yang digunakan bersama.
Kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, merapikan kamar, menjaga kebersihan kamar mandi, serta tidak meninggalkan barang-barang pribadi di ruang publik diharapkan dapat menjadi budaya kehidupan sehari-hari.
H. Winarno menekankan bahwa lingkungan yang bersih akan menciptakan suasana belajar dan tinggal yang lebih nyaman.
“Kalau lingkungan kita bersih, kita sendiri yang merasakan manfaatnya. Karena itu, jangan menunggu orang lain. Mulailah dari diri sendiri dan dari hal-hal kecil,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, H. Winarno juga menyampaikan kembali pentingnya kedisiplinan bagi para mahasantri.
Kehidupan Ma’had memiliki tata tertib yang harus dipahami dan dilaksanakan bersama. Aturan tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi mahasiswa, melainkan untuk membangun kebiasaan hidup yang teratur dan bertanggung jawab.
Para mahasantri baru diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan jadwal kegiatan, mengikuti program pembinaan, menjaga ketertiban, serta menghormati ketentuan yang berlaku di lingkungan Ma’had.
Menurut H. Winarno, disiplin merupakan salah satu karakter penting yang harus dimiliki mahasiswa.
Kedisiplinan yang dibangun sejak berada di Ma’had diharapkan dapat terbawa ke ruang perkuliahan, organisasi, lingkungan keluarga, hingga kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, tata tertib tidak hanya dipahami sebagai aturan tertulis, tetapi sebagai sarana pembentukan kebiasaan positif.
Rangkaian kegiatan MATAHARI 2026/2027 kemudian dilanjutkan dengan sesi motivasi dan pengarahan dari para pengasuh serta koordinator bidang di lingkungan Ma’had Al-Jami’ah.
Pada sesi tersebut, para mahasantri baru diberikan gambaran mengenai kehidupan sehari-hari di Ma’had sekaligus diajak memahami bahwa menjadi mahasantri merupakan sebuah proses panjang dalam membangun diri.
Para pengasuh memberikan motivasi agar mahasantri tidak hanya mengejar pencapaian akademik, tetapi juga berusaha menjadi pribadi yang memiliki akhlak, kedisiplinan, kemandirian, serta kemampuan bersosialisasi.
Para mahasantri juga didorong untuk berani keluar dari zona nyaman. Lingkungan Ma’had dipandang sebagai ruang untuk mencoba, belajar, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan terus berkembang.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi para mahasantri baru untuk mulai mengenal para pengasuh dan koordinator bidang yang nantinya akan mendampingi mereka dalam berbagai program pembinaan.
Pesan yang diberikan pada sesi motivasi tersebut menekankan bahwa perjalanan menjadi mahasantri tidak selalu mudah. Akan ada proses adaptasi, perbedaan karakter dengan teman, tuntutan kedisiplinan, serta berbagai tantangan lainnya.
Namun, semua itu diharapkan dapat menjadi pengalaman yang memperkuat mental dan kematangan pribadi.
Pelaksanaan MATAHARI Tahun Akademik 2026/2027 menjadi momentum penting dalam menyambut para mahasantri baru yang sebelumnya datang dari berbagai daerah di Bangka Belitung.
Setelah mengikuti proses penerimaan dan mulai menempati lingkungan Ma’had, kegiatan ini menjadi pintu awal bagi mereka untuk mengenal lebih dekat kehidupan yang akan dijalani selama berada di asrama.
Dari kegiatan tersebut, para mahasantri mendapatkan sejumlah pesan penting: bahagia dalam menjalani kehidupan di Ma’had, menjaga fasilitas, menjaga kebersihan, disiplin terhadap aturan, mengembangkan kemampuan akademik, serta membangun soft skill dan kemampuan komunikasi.
Lebih dari itu, para mahasantri diharapkan mampu menjadikan Ma’had sebagai ruang untuk bertumbuh.
Ilmu yang diperoleh di ruang kuliah diharapkan dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan berkomunikasi diasah melalui interaksi dengan sesama. Kemandirian dibangun melalui kehidupan asrama. Sementara karakter dan nilai-nilai keislaman diperkuat melalui berbagai program pembinaan.
Dengan demikian, keberadaan Ma’had tidak hanya menjadi tempat tinggal selama menempuh pendidikan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan pribadi mahasiswa.
Melalui MATAHARI 2026/2027, para mahasantri baru diharapkan mampu memulai perjalanan tersebut dengan semangat dan optimisme.
Mereka bukan sekadar mahasiswa yang tinggal di asrama, tetapi merupakan bagian dari keluarga besar Ma’had Al-Jami’ah yang diharapkan tumbuh menjadi generasi berilmu, berakhlak, mandiri, komunikatif, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan dalam MATAHARI menjadi bekal awal bagi para mahasantri untuk menjalani satu tahun pembinaan ke depan. Perjalanan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang memiliki ijazah dan kemampuan akademik, tetapi juga pribadi yang matang dalam bersikap, mampu berkomunikasi, memiliki kepedulian sosial, serta mampu mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya di tengah kehidupan masyarakat.